Buku Gereja Batu Mojowarno

 
Riyaya Undhuh‑Undhuh Mojowarno, Jombang, Jawa Timur  adalah tradisi tahunan ucapan syukur atas panen yang biasanya diadakan setiap Mei. Perayaan Undhuh-Undhuh ini juga adakan di seluruh Jemaat GKJW (Greja Kristen Jawi Wetan) di Jawa Timur. Tradisi turun temurun ini pada tahun 2019 telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kemendikbudristek Republik Indonesia. Demikian juga gedung Gereja Mojowarno yang diresmikan tanggal 3 Maret 1881 ini, menjadi bangunan cagar budaya nasional.

Budaya selaras dengan mayoritas warga jemaat GKJW adalah petani. Catatan sejarah menjelaskan munculnya awal jemaat-jemaat Kristen di Jawa Timur ini banyak dari pembukaan hutan terlantar yang mereka olah menjadi tanah pertanian dan pemukiman Kristen. Demikian pula dengan awal berdirinya pemukiman Mojowarno. Tahun 1844 Hutan Kratjil di distrik Wirosobo yang terkenal wingit dan angker dibuka oleh tiga kepala keluarga Kristen. Cerita perjalanan panjang dimulai. Ada konflik, duka terlebih dahulu kesukacitaan. Jemaat petani di pedalaman Jawa itu melesat, seperti terang ditengah kegelapan. Menjadi merek kebanggaan para misionaris Nusantara. Bahkan pernah disebut Yerusalem menjadi Jawa Timur . (Mojowarno "Menjadi Yerusalem Jatim") Tertulis di hal 9, Nortier CW 1981,Tumbuh,Dewasa,Bertanggung Jawab, BPK Gunung Mulia Jakarta.

Kemajuan bukan dalam kerohanian saja. Pranata-pranata (aturan) Kristen mewarnai ditiap desanya. Dukuh, dusun dan desa ini menjadikan Masyarakat Adat Kristen. Kepercayaan dan cara hidup Kristen memberikan berkat yang melimpah. Panen berlimpah, rumah-rumah batu besar mulai muncul lengkap dengan lumbungnya hanya ada disini. Sekolah-sekolah, rumah sakit dan Gereja berdiri megah di pedalaman ditengah hamparan sawah.

Tapi tahukah kita perjalanannya Mojowarno ?

Proses pembangunan Gerejanya ?

Proses yang sangat panjang. Dimulai dari gereja seadanya diatas pohon, gereja gubuk, gereja bambu sampai gereja batu ini. Para petani-petani itu mengumpulkan berkas berkas padinya untuk membangun gerejanya.

Banyak buku yang menceritakan tentang Mojowarno, namun buku Gereja Batu Mojowarno ini patut dibaca. Bukan saja karena penulisnya asli dari Mojowarno, tapi narasinya yang runut mulai babad alas sampai gedung gereja diresmikan bisa menjadi wawasan kita tentang Mojowarno. Buku ini ditulis dengan sumber dokumen, manuskrip, peta, foto dan laporan data primer yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan disisipi kisah-kisah kesaksian dan sketsa kehidupan profil tokoh dan jemaat awam, yang membuat narasi semakin hidup. Sehingga buku Gereja Batu Mojowarno ini, sangat perlu dibaca. Karena kita seperti dibawa ke masanya. Dimasa 145 tahun yang lalu.









Posting Komentar

0 Komentar