Lebih Dekat dengan Gatayu Gagat Enjang, Juara Solo Remaja Putri Pesparawi XIV asal GKJW

 

Dok. pribadi

Pengumuman pemenang pada ibadah penutupan Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi) Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat, Minggu (28/6/2026), membawa kabar sukacita besar bagi Jawa Timur. Nama Gatayu Gagat Enjang, pemudi asal GKJW Jemaat Donomulyo-Malang, resmi dinobatkan sebagai Champion Gold 1 pada kategori Penyanyi Solo Remaja Putri. Lewat penghayatan lagu pujian yang mendalam, ia sukses membawa pulang medali emas nasional. 

Namun, di balik riuh piala prestasi tersebut, rekam jejak Enjang terbentuk melalui proses konsistensi yang panjang sejak masa kecilnya di desa. Yuk, simak rekam jejak sosoknya yang dapat menjadi inspirasi khususnya bagi generasi muda.

Bakat yang Diasah Sejak Usia Tiga Tahun
Berdasarkan data yang dihimpun dari kesaksiannya di kanal YouTube, bakat menyanyi Enjang sebetulnya sudah terdeteksi sejak ia masih berusia 3 tahun. Sang ayah menyadari sang anak memiliki kepekaan nada yang baik karena sudah mampu mengikuti irama musik dengan pas tanpa fals.

Guna mematangkan bakat alam tersebut, ia mulai mengikuti les vokal saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Langkah kompetisi pertamanya dimulai lewat perlombaan tingkat sekolah. Di sana, mahasiswi UB ini meraih Juara Harapan Dua. Sempat diliputi rasa grogi khas anak-anak saat tampil di depan teman sebaya, Enjang justru tumbuh menjadi penyanyi yang lebih percaya diri ketika tampil di hadapan audiens dewasa.

Perjalanan kompetisinya terus menanjak secara bertahap. Ia rutin bersaing dari seleksi tingkat kecamatan, festival tingkat Kabupaten Malang, hingga berhasil menembus ajang tahunan bergengsi Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang diselenggarakan oleh Kemendikbudristek. Berbagai jam terbang inilah yang membentuk mentalitas vokalnya hingga dipercaya memperkuat delegasi Provinsi Jawa Timur di tingkat nasional.

Membuka Kelas Vokal Gratis di Rumah
Hal yang paling disoroti oleh komunitas gerejanya bukanlah seberapa banyak piala yang ia bawa pulang, melainkan kerendahan hatinya untuk membagikan ilmu. Sesuai rilis pers situs resmi GKJW, di sela-sela kesibukannya mempersiapkan kompetisi nasional, Enjang memilih melayani sesama dengan bertindak sebagai guru vokal sukarela bagi remaja sebayanya.

Ia secara rutin membuka pintu rumahnya di Donomulyo untuk menjadi ruang kelas vokal cuma-cuma. Bagi Enjang, talenta bernyanyi seriosa dan pop gerejawi yang ia miliki merupakan titipan Tuhan yang sudah semestinya ditularkan agar menjadi berkat yang berlipat ganda untuk anak-anak muda lainnya. 

Hingga saat ini, di samping statusnya sebagai jawara nasional, ia tetap berkomitmen menjalankan tugasnya sebagai bagian dari pelayan aktif di Komisi Pemuda GKJW Jemaat Donomulyo. Langkah nyata ini membuktikan bahwa pencapaian tertinggi di panggung megah tidak membuatnya melupakan akar komunitas tempat ia bertumbuh. 

Inspirasi Kaum Muda

Sesuai dengan namanya, Gagat Enjang; "fajar di pagi hari", Gatayu telah menyelesaikan tugasnya di Manokwari dengan membawa pulang emas untuk Jawa Timur. Namun bagi anak-anak di Donomulyo, fajar yang sesungguhnya adalah saat Gatayu pulang, duduk bersama mereka di teras rumah, dan melatih mereka untuk berani bermimpi lewat lagu pujian.

Proficiat! (end)



Posting Komentar

0 Komentar