Tanggal 6 Juni 1894, jam 10 pagi.
Seberang jalan depan Gereja Mojowarno, Jombang berkerumun banyak orang. Mereka semua antusias menyaksikan sebuah rumah sakit diresmikan. Terasa aneh memang, sebuah rumah sakit dibangun di pedalaman pelosok Jawa. Ditengah – tengah desa berhamparan sawah luas. Terlebih lagi, tidak (belum) ada seorang dokter dan nakes di rumah sakit baru itu. Tetapi semua yang hadir dikumpulkan.
Bahkan sekelas Bupati Möjökertö, Raden Adipati Arya Kromo Djójo Adi Nëgoro III (Raden Aersadan) pasang badan atas pembangunan rumah sakit ini. Sedari awal, batu pembangan tanggal 23 Maret 1892 beliau meletakkan. Bupati tidak sekedar hadir, tetapi mendukung penuh pembangunan rumah sakit ini. Menyumbang 200 gulden dari dana pribadi bahkan memberi instruksi kepada unit kerja dibawahnya dan seluruh warganya untuk mendukung. Sebegitu pentingnya arti rumah sakit ini baginya. Beliau tahu benar bahwa pengobatan di sini bermanfaat. Untuk melayani kesehatan rakyatnya tanpa memandang status dan agama. Obat gratis bukan jauh dari kesembuhan. Pasien sembuh kadang kembali bersama saudaranya. Membawa keranjang besar berisi pisang, polo pendem, hasil bumi, ayam sampai pedet . Sekedar menyampaikan ucapan syukur kesembuhannya.
Lihatlah sebelum rumah sakit ini berdiri, di kamar obat ( kamar jamu , masyarakat menyebut) pasien penuh sesak disana. Di lahan bekas kandang ayam antara kapanditan dan gereja kamar obat berdiri. Dibangun dari bambu dan sisa-sisa kayu bekas pembangunan gereja. Rata – rata pasien rawat inap jadi 50 pasien. Kadang pasien dititipkan sementara ke rumah penduduk sekitar karena penuh. Laporan misionaris Arie Kruyt ( tuwan anem ) pada tahun 1891 ada total 3.863 pasien. Mereka datang tidak hanya dari sekitar Mojowarno saja, ada juga dari jauh seperti Madura.
Sejak misionaris Jellesma datang pertama kali di Mojowarno tahun 1851, patuwen orang sakit sudah dilakukannya. Terlebih lagi setelah kedatangan misionaris Johannes Kruyt tahun 1864 pelayanan pengobatannya semakin berkembang. Padahal saat itu Kruyt bersusah payah mengenalkan kebiasaan atau lingkungan sehat bersih dan pengobatan medis (barat). Melawan pengobatan takhayul yang sudah menjadi kebiasaan mendarah daging penduduk. Pertama kali datang Kruyt mengejutkan banyak pengobatan yang sangat aneh dan kontradiktif. Ambil contoh saja, air jeruk nipis dicampur asam jawa matang sebagai obat oles mata untuk mata sakit.
Memang semua misionaris Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) sebelum ditahbiskan dan dikirim sudah dilengkapi pengetahuan medis. Tetapi itu hanya kursus kedokteran beberapa dasar bulan saja. Kadang Kruyt menyesal dan sedih, dikala ia tidak mampu mengindentifikasi penyakit pasiennya. Bersyukur dokter. Greve, dokter mata terkenal di Surabaya menerima Kruyt untuk magang beberapa minggu di tempat kerjanya. dokter Cramer Von Baumgarten di
Modjö-Kërtö terlebih dokter. van Buuren di Jombang yang tanpa pamrih selalu menjawab dan membantu Kruyt ketika mengalami kesulitan.
“Oh, betapa aku merindukan saat ketika lebih banyak pekerja dari masyarakat kita dikirim ke Jawa dan di antara mereka, kuharap, ada yang lebih memahami ilmu kedokteran secara mendalam yang lebih baik daripada aku, " k erinduan permintaan Kruyt seorang dokter telah disampaikan dilaporanya tahun 1867.
Dengan keterbatasan yang ada, Kruyt tetap setia melayani.
"Pengobatan orang sakit adalah de arm dien wij naar buiten uitsteken
( lengan yang kita ulurkan ke luar ). Sarana kita mengungkapkan semangat mengulurkan tangan untuk membantu sesama," tulis Kruyt.
Pelayanan kesehatan atau tindakan menyelamatkan sesama adalah bentuk komunikasi spiritual tertinggi manusia , di mana cinta kasih di dalam hati diubah menjadi tindakan nyata yang menyelamatkan .
"Cinta yang ingin kita tunjukkan," kata Kruyt,
"Harus diberikan syarat kepada semua yang membutuhkan dan meminta. Orang Jawa berkata : krónö Allah , cinta seperti cinta Tuhan, yang memenuhi keinginan semua orang tanpa memenuhi siapa pun. Konsep cinta dalam budaya Jawa belum seperti ini : mencintai orang yang berusaha semaksimal mungkin untuk kesejahteraan sesamanya, tetapi lebih kepada orang yang selalu memberi atau membantu apa yang diinginkan.”
Bersyukur misionaris Johannes Kruyt ( tuwan sepuh ) berserta putra sulungnya misionaris Arie Kruyt ( tuwan anem ) mempunyai staf pendukung yang setia. Sembilan orang dengan enam orang relawan yang tidak dibayar Seorang asisten kepala merangkap apoteker bergaji tetap dengan dibantu dua sukarelawan. Empat perawat yang tidak dibayar. Satu juru masak untuk pasien, bergaji. Satu orang pembantu bergaji untuk pekerjaan berat. Relawan ini diambil dari para guru sekolah Mojowarno yang terpanggil melayani orang sakit saat jam mengajar selesai.
Mungkin kita bertanya, bukan pemerintah (Hindia Belanda) memastikan bahwa bantuan medis yang memadai tersedia bagi penduduk pribumi ?
Kenyataannya adalah bahwa warga asli yang sakit tidak mendapatkan perawatan yang memadai dari pemerintah. Di Hindia Belanda terdapat dokter Eropa dan dokter pribumi (dokter djawa). Mereka diangkat oleh pemerintah dan menerima penempatan dan gaji serta tunjangan. Koloniaal Verslag (Laporan Kolonial) mencatat bahwa di Jawa dan Madura terdapat 42 dokter sipil yang aktif yang menerima gaji atau tunjangan dari Pemerintah. Mereka ditugaskan di 16 tempat layanan medis dan ada 68 dokter-djawa, sehingga total 126 dokter. Sehingga satu dokter untuk setiap 159.000 jiwa. Dan apa kewajiban mereka untuk ditunjuk oleh Pemerintah? Untuk merawat apa yang disebut sebagai korban pemerintah, yaitu, tentara pribumi, tahanan dan semua pejabat pemerintah Eropa dan pribumi yang memiliki gaji bulanan kurang dari Æ’ 150. Selain itu, untuk mengawasi vaksinasi, para pelacur, dll.
Bagaimana pasien sakit dari kalangan penduduk asli biasa?.
Tidak ada sama sekali. Seseorang dapat memanfaatkan bantuan dokter jika ia mau membayar dokter sendiri. Itupun dengan catatan, dokter tersebut dapat dihubungi. Semua itu menjadi mustahil jika dalam keadaan darurat terjadi seperti saat wabah penyakit cacar dan kolera. Pemerintah hanya menyediakan obat-obatan : kina, sirup kolera. Tetapi tidak ada dokter yang dapat memberikan obat-obatan ini kepada penduduk setempat. Obat-obatan tersebut diserahkan kepada kepala distrik yang kemudian diteruskannya kepada kepala desa, dan kepala desa kemudian harus memastikan bahwa para penderita mendapatkan obat-obatan tersebut. Sekarang kita dapat membayangkan bagaimana sistem ini bekerja di Jawa, dan betapa kecilnya hal itu dapat disebut sebagai bantuan medis, meskipun hal itu menghabiskan biaya yang signifikan bagi Pemerintah.
Afdeeling Jombang tempat dimana Mójówarnó berada, berpenduduk 280.000 jiwa (pribumi). Hanya ada satu dokter, van Buuren. Untuk melayani orang Eropa sudah lebih dari cukup. Namun untuk penduduk pribumi dirasa terbatas. Rasanya mustahil bagi van Buuren untuk merawat meski hanya seperseratus penduduk pribumi di Jombang sendirian. Karenanya banyak pribumi jika sakit pergi ke dukun. Pada tahun 1880 dilaporkan jumlah orang yang sakit yang ditangani Kruyt mencapai angka tertinggi, 4.433 pasien.
Sebagai seorang misionaris, beban kerja Kruyt terasa berat. Pelayanan oeang sakit banyak menyita waktunya. Pelayanan lainnya menjadi terabaikan.
"Tidak adakah seorang pun di antara para dokter muda di tanah air yang bersedia mengambil alih tugas berat ini? Tidakkah akan muncul orang-orang di antara para dokter pribumi yang bersedia mendukung di antara orang Jawa dengan talenta mereka?," permohonan Kruyt dalam suratnya berulang kali setelah rumah sakit berdiri.
Akhirnya H. Bervoets calon dokter di Hoogeschool Utrecht membaca tulisan kerinduan Kruyt itu. Ia pun terpanggil menjadi dokter misi ke negeri jauh dari tempat asalnya. Setelah puluhan tahun pelayanan orang sakit, pada bulan Januari 1895 Bervoets menjadi dokter pertama di Mojowarno. Menjadi dokter misi kedua di Jawa setelah dokter Scheurer di Jogja Bersyukur pula istrinya, Ny. Bervoets seorang perawat mendukung penuh panggilan suaminya. Nantinya mereka berdua mendidik para gadis desa menjadi perawat dan bidan yang bisa melayani bangsanya. Pendidikan kebidanan di desa pelosok ini menjadi ketertarikan Raden Ajeng Kartini untuk bersekolah disana.
Selamat Ulang Tahun RSKM ke – 132
Pangandelmu kang mitulungi kowé
0 Komentar