Natal belum selesai hanya karena kalender dunia berganti angka. Jangan kira, begitu 1 Januari tiba, masa Natal sudah berakhir.
Dalam tahun gerejawi, dimulai dengan Adven selama 4 (empat) pekan, lalu masuk ke masa Natal sekitar 2 (dua) pekan hingga Epifani.
Jadi, ketika masyarakat umum sibuk dengan pesta kembang api dan resolusi tahun baru, umat Kristen masih diajak untuk merenungkan misteri kelahiran Kristus.
Perbedaan ini mengingatkan, hidup orang percaya berjalan di dua ritme: ritme dunia dan ritme rohani.
Tepat 1 Januari, bagi gereja, tanggal ini punya makna teologis: Hari Peringatan Nama Yesus, mengingat Yesus disunat dan diberi nama pada hari kedelapan (Luk 2:21).
Terompet Tahun Baru
Di masyarakat umum, tiupan terompet saat tahun baru adalah simbol pesta. Namun secara rohani, terompet punya akar tradisi kuno: dalam Alkitab, shofar atau terompet tanduk, ditiup untuk menandai awal baru, panggilan ibadah, atau pengumuman sukacita.
Gereja menafsirkan simbol ini sebagai panggilan terang Kristus: suara yang mengumumkan lahirnya harapan baru, cahaya yang mengusir kegelapan.
Maka, tiupan terompet bukan sekadar riuh duniawi, tetapi bisa dimaknai sebagai tanda sukacita rohani: dunia baru dimulai dengan terang Kristus.
Tahun Berganti, Natal Masih Terjadi
Kita tak perlu buru-buru meninggalkan Natal hanya karena kalender berganti angka tahunnya. Natal adalah perayaan iman yang mengajarkan kita untuk terus membawa terang Kristus ke dalam tahun yang baru. Tahun sipil boleh berganti, tetapi sukacita Natal tetap berlanjut dalam hati dan kehidupan kita.
Selamat memperingati Tahun Baru dan Hari Pesta Nama Yesus. Nama yang memberi keselamatan dan pembawa harapan.
Tuhan memberkati. Amin…
(Admin)
Visual video dapat dilihat di kanal:
1. YouTube/Shorts
2. Snack Video
3. TikTok

0 Komentar