Ikhtiar Gereja di Malang Membangun Persaudaraan di Harlah Seabad NU

Beberapa gereja di Kota Malang ikut mendukung gelaran Mujahadah Kubro Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU). Mereka menyiapkan tempat dan fasilitas di gereja untuk istirahat bagi jemaah Nahdlatul Ulama yang mengikuti Mujahadah Kubro 1 Abad NU tanggal 7-8 Februari 2026 di Stadion Gajayana, Malang. 

Gereja yang menyediakan fasilitas untuk jemaah Nahdliyin di antaranya, Gereja Katedral Ijen, Gereja Katholik Hati Kudus Yesus (HKY) Kayutangan, Sinode GKJW Jalan S Supriadi, GKI Bromo dan Gereja HKBP Jalan Bromo. Wali Kota Malang Wahyu Hidayat sangat mengapresiasi toleransi keagamaan itu.

"Keberadaan gereja-gereja tersebut sangat membantu dalam pengelolaan jemaah, mengingat daya tampung venue kurang dari 100.000," tegasnya ketika berkeliling meninjau pepersiapan gereja - gereja tersebut. 

Prof. Maskuri Bakri Ketua Panitia Harlah 1 Abad NU, menyatakan  para jemaah akan datang secara bertahap sejak Sabtu (7/2/2026) sekitar pukul 18.00 WIB hingga 24.00 WIB.

“Karena pada Minggu (8/2/2026) pukul 00.00 WIB, jemaah harus tiba di Stadion Gajayana dan memulai sejumlah kegiatan. Seperti, khatmil Quran 999 kali, mujahadah dan pemberian ijazah kubro. Kemudian ada istigasah dan doa bersama yang dipimpin oleh kiai sepuh, serta dilanjut Sholat Taahajud dan Subuh berjamaah,”

"Kegiatan masih akan dilanjut dengan selawat bersama yang dipimpin oleh majelis muslimin. Acara kemudian dilanjut dengan sambutan-sambutan dari PWNU Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim, KH Miftaghul Akhyar Rais Aam PBNU. Selanjutnya ditutup dengan pidato kebangsaan oleh Prabowo Subianto Presiden RI," jelasnya.

Karenanya beberapa gereja memutuskan untuk meniadakan sebagian atau merubah jam ibadahnya, untuk mendukung kelancaran acara tersebut. Seperti di Gereja Katedral Ijen, misa hanya dilaksanakan pada Minggu sore pukul 16.30 dan 18.30 WIB. Dua kali misa pada Sabtu sore dan dua misa Minggu pagi ditiadakan. Pun demikian ibadah di gereja HKBP tidak seperti  biasanya, Sekolah Minggu serta ibadah pukul 07.30, 10.00 ditiadakan. Ibadah hanya dilaksanakan dua kali, yakni pukul 15.00 dan 17.00 WIB.

Pendeta Natael Hermawan Prianto MBA, ketua  PGIW (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah) Jawa Timur dan juga ketua Sinode (Majelis Agung) GKJW menyatakan bahwa, langkah ini merupakan wujud persaudaraan dan kepedulian sesama.

“Ini bukan hanya soal tempat, tetapi tentang persaudaraan. Kiranya silaturahim ini kami harapan terus berlanjut,” harapnya.

Kantor Majelis Agung GKJW sendiri menjadi lokasi transit sekitar 1.200 jamaah NU asal Surabaya sebelum mengikuti rangkaian acara di Stadion Gajayana.

Nur Cholis, Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya mengucapkan terima kasih kepada gereja-gereja di Malang atas dukungannya. Berharap persaudaraan ini bisa mengispirasi banyak pihak. 


Sejarah mencatat, NU–GKJW turut menguatkan kolaborasi ini. NU berdiri pada 1926 di Surabaya, sedangkan GKJW berdiri pada 1931 di Mojowarno, Jombang. Di area kantor Majelis Agung ini juga menjadi saksi bagaimana bangunan kerukunan dan persaudaraan di Jatim telah dirintis dan dibangun. Adalah Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid pernah mengajar di Balewiyata. Tepatnya pada tahun 1974 hingga tahun 1981. Gus Dur mengajar Islamologi (ilmu tentang keislaman) bagi para pendeta dan melahirkan sebuah gagasan tentang persaudaraan sejati bersama dengan mantan ketua Sinode GKJW, Pdt. Prof. Sri Wismo Adi Wahono saat itu.

Pendeta Natael menegaskan, keterlibatan gereja dalam harlah NU ini tidak semata bersifat teknis, melainkan juga sebagai ikhtiar membangun dan merawat persaudaraan antar umat beragama.

“Ini bukan hanya urusan teknis, tetapi juga sebuah ikhtiar membangun dan merawat persaudaraan sesama anak bangsa, khususnya di Jawa Timur,” ungkap Pdt Natael saat ditemui disela-sela penyambutan kedatangan para Nahdliyin di Sinode GKJW.




Foto  & video: Andreas Dondy Christiawan

Posting Komentar

0 Komentar